Menu

Title

Subtitle

Pemahaman Aqiqah Menurut Agama Islam

January 29, 2017

Pikir bahasa ‘Aqiqah artinya: menguraikan. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya leher binatang beserta penyembelihan itu. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama untuk hewan yang disembelih, disebut demikian karena lehernya dipotong Ada pun yang menyiarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serat yang tersembunyi pada kepala si bocah ketika ia keluar mulai rahim ibu, rambut ini disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah adalah penyembelihan domba/kambing untuk budak yang dilahirkan pada hari ke tujuh, 14, / 21. Jumlahnya 2 termuda untuk bayi laki-laki & 1 sudut untuk balita perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Mulai Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah bersabda: “Semua anak momongan tergadaikan beserta aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi identitas dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Daripada Aisyah dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang sama dan budak perempuan wahid kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih satwa untuknya di dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh bertitah: “Aqiqah dijalankan karena kelahiran bayi, dipastikan sembelihlah fauna dan hilangkanlah semua seloroh darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Atas ‘Amr bin Syu’aib atas ayahnya, daripada kakeknya, Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi oleh sebab itu hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang sama dan untuk perempuan mono kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW sudah ber ‘aqiqah untuk Lembut dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, sira memberi identitas dan mengharuskan supaya dihilangkan kotoran mulai kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, dalam AI-Mustadrak bagian 4, hal. 264]

Tanda: Hasan & Husain merupakan cucu Rasulullah SAW.

Mulai Fatimah binti Muhammad saat melahirkan Laksmi, dia berkata: Rasulullah berkata: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan argentum kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, & al-Baihaqi]

Atas Abu Buraidah r. a.: Aqiqah itu disembelih saat hari ketujuh, atau keempat belas, ataupun kedua persepuluhan satunya. (HR Baihaqi & Thabrani).

Patokan Aqiqah Anak adalah sunnah (muakkad) sesuai pendapat Kepala Malik, penduduk Madinah, Kepala Syafi'i serta sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan paling banyak ulama ahli fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sebab kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai jasad yang sunnah muakkadah ialah hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai beserta aqiqahnya. Disembelihkan untuknya di hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan siram darinya kotoran (Maksudnya bercukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Perkataan: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah amanat, namun bukan bersifat tetap, karena terselip sabdanya yang memalingkan daripada kewajiban yaitu: “Barangsiapa di antara kalian tersedia yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, dipastikan silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Abu Dawud dan An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan pendapat yang menjungkirkan perintah yang pada dasarnya tentu menjadi sunnah.

Imam Raja berkata: Aqiqah itu menyerupai layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), bukan boleh pada aqiqah ini hewan yang picak, mersik, patah urat, dan sakit. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Serta harus dihindari dalam fauna aqiqah itu cacat-cacat yang bukan diperbolehkan di qurban.

Buraidah berkata: Lepas kami dalam masa jahiliyah apabila salah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih wedus dan menconteng kepalanya dengan darah kibas itu. Oleh karena itu setelah Tuhan mendatangkan Agama islam, kami merebahkan membantai kambing, menjatuhkan (menggundul) oknum si budak dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Abu Dawud perkara 3, sesuatu. 107]

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang di dalam masa jahiliyah apabila itu ber’aqiqah untuk seorang balita, mereka menconteng kapas dengan darah ‘aqiqah, lalu tatkala mencukur serabut si bocah mereka mengurapkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW berfirman, “Gantilah sundut itu secara minyak wangi”.[HR. Putra Hibban dengan tartib Rumpun Balban juz 12, sesuatu. 124]

Kegiatan aqiqah pikir kesepakatan getah perca ulama ialah hari ketujuh dari kemunculan. Hal berikut berdasarkan hadits Samirah dalam mana Nabi SAW menitahkan, “Seorang bani terikat beserta aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh & diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan tidak bisa dijalankan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Meski tidak pula, maka di dalam hari ke-21 atau masa saja ia mampu. Imam Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) untuk dasar imbauan, maka takut-takut menyembelih pada hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah itu telah semua. Karena rukun ajaran Agama islam adalah mempermudah bukan menyulitkan sebagaimana nasihat Allah SWT: “Allah mewujudkan kemudahan bagimu dan bukan menghendaki ketegangan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Kegiatan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kemunculan, ini berdasarkan sabda Rasul SAW, yang artinya: “Setiap anak ini tergadai beserta hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi identitas. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dishahihkan sebab At Tirmidzi)

Dan apabila tidak sanggup melaksanakannya saat hari ketujuh, maka bisa dilaksanakan di hari ke empat belas kasihan, dan apabila tidak bisa, maka saat hari ke dua persepuluhan satu, berikut berdasarkan hadits Abdullah Pelerai demam Buraidah dari ayahnya mulai Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: “Hewan aqiqah itu disembelih di hari ketujuh, ke empat belas, serta ke dua puluh wahid. ” (Hadits hasan babad Al Baihaqiy)

Namun setelah tiga ahad masih tidak mampu oleh sebab itu kapan saja pelaksanaannya pada kala sudah mampu, karena pelaksanaan di dalam hari-hari ke tujuh, di empat belas dan ke dua puluh satu ialah sifatnya sunnah dan paling utama meski wajib. Serta boleh pula melaksanakannya sebelum hari ke tujuh.

Balita yang tenang dunia pra hari ketujuh disunnahkan pun untuk disembelihkan aqiqahnya, bahkan meskipun budak yang keguguran dengan tuntutan sudah berusia empat kamar di dalam lembaga ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada rama si momongan. Namun bila seseorang yang belum di sembelihkan satwa aqiqah sama orang tuanya hingga ia besar, jadi dia bisa menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan jika tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri oleh karena itu hal itu tidak apa-apa menurut abdi, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan di dalam hari ketujuh dari kelahiran. Jika bukan bisa, dipastikan pada hari keempat belas kasihan. Dan jika bukan bisa juga, maka pada hari kedua puluh mono. Selain tersebut, pelaksanaan aqiqah menjadi bagasi ayah.

Tapi demikian, kalau ternyata pada kecil ia belum diaqiqahi, ia sanggup melakukan aqiqah sendiri di saat mantap. Satu pada al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah saat besar ia boleh mengaqiqahi dirinya seorang diri? ” Imam Ahmad menyongsong, “Menurutku, apabila ia belum diaqiqahi tatkala kecil, oleh karena itu lebih cantik melakukannya seorang diri saat mendalam. Aku gak menganggapnya makruh”.

Para saudara Imam Syafi’i juga berpendapat demikian. Dari segi mereka, anak-anak yang sudah dewasa yang belum diaqiqahi oleh sosok tuanya, disarankan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Nominal Hewan

Nominal hewan aqiqah minimal merupakan satu upaya baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan, sesuai perkataan Rumpun Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain mono domba wahid domba. ” (Hadits shahih riwayat Duli Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Aku harus tegak bahwa Patut dan Husain adalah bani kembar. Maka pada tunggal kelahiran tersebut disembelih 2 ekor kambing.

Namun yang lebih utama adalah 2 ekor untuk anak laki-laki dan 1 ekor untuk budak perempuan berdasar pada hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW mengharuskan agar dsembelihkan aqiqah dari anak laki-laki 2 ekor sedia dan dari anak cewek satu termuda. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Kepala Ahmad dan Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang memiliki arti: “Nabi SAW memerintahkan tersebut agar disembelihkan aqiqah atas anak laki-laki 2 ekor domba yang selevel dan atas anak cewek satu kontrol. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan beserta ‘aqiqah

Yang berhubungan beserta sang anak

1. Disunnatkan untuk memberi nama & mencukur sabut (menggundul) di hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir dalam hari Ahad, ‘aqiqahnya rontok pada hari Sabtu.

2. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor wedus sedang untuk anak cewek 1 termuda.

3. ‘Aqiqah ini paling utama dibebankan lawan orang tua si anak, akan tetapi boleh pula dilakukan sama keluarga lainnya (kakek serta sebagainya).

4. Aqiqah berikut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Bagus Mentah / Dimasak

Dianjurkan agar dagingnya diberikan pada kondisi sungguh dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan tunggal ekor kibas untuk budak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Ketuat aqiqah dikasih kepada tetangga dan miskin miskin pula bisa diberikan kepada orang-orang non-muslim. Bahkan jika hal itu dimaksudkan untuk memukau simpatinya serta dalam kerangka dakwah. Dalilnya adalah tutur Allah, “Mereka memberi membaham orang melarat, anak yatim, dan tahanan, dengan sentimen senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tahanan pada saat itu merupakan orang-orang kufur. Namun demikian, keluarga pun boleh membersihkan sebagiannya.

Yang berhubungan dengan binatang sembelihan

1. Pada masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah wedus, tanpa memperlakukan apakah jantan atau betina, sebagaimana sejarah di kolong ini:

Atas Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebenarnya ia relasi bertanya terhadap Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka bicara beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki dua ekor wedus dan untuk anak perempuan satu termuda kambing. Tidak menyusahkanmu cantik kambing tersebut jantan ataupun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan kami belum meraih dalil lainnya yang menampilkan adanya binatang selain kibas yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Waktu yang dituntunkan oleh Rasul SAW menurut dalil yang shahih ialah pada hari ke-7 per kelahiran anak tersebut. [Lihat informasi riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian uci-uci Aqiqah

Akan halnya dagingnya oleh karena itu dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, & mensedekahkan beberapa lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan tidak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menimba kerabat dan tetangga untuk menyantap santapan daging aqiqah yang sungguh matang. Syaikh Jibrin mengatakan: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga lagi kepada umat islam, dan boleh mengundang sohib-sohib dan macam untuk menyantapnya, atau larat juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Putra Bazz mengatakan: Dan engkau bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya / sebagiannya serta memasaknya kemudian mengundang manusia yang engkau lihat terampil diundang atas kalangan kerabat, tetangga, sohib2 seiman dan sebagian sosok faqir untuk menyantapnya, dan hal seperti dikatakan sambil Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Anak

Tidak diragukan lagi bahwa ada hubungan antara maksud sebuah pamor dengan yang diberi seri. Hal itu ditunjukan secara adanya sekitar nash syari yang memproklamasikan hal ini.

Dari Duli Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam mudah-mudahan Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Yang mahakuasa mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 serta Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang tersembunyi dalam sebutan berkaitan dengannya sehingga seumpama makna-makna ini diambil darinya dan bagai nama-nama itu diambil daripada makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui akibat nama-nama lawan yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits dalam bawah ini:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang lawan Nabi SAW, beliau pula biar bertanya: “Siapa namamu? ” Aku respons: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama penghargaan bapakku” Ibnu Al-Musayyib berkata: “Orang ini senantiasa bersuara keras tentang kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang cantik untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban pengampu. Di antara nama-nama yang bagus yang menarik diberikan adalah nama rasul penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana bicara beliau: Mulai Jabir Ra dari Rasul SAW sira bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau mempergunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui cara pemberian nama yang baik dari sisi ajaran Agama islam, silahkan kumpulan:

Memberi Pamor Bayi atau Anak Berdasar pada Islami


Memotong Rambut

Membabat rambut ialah anjuran Rasul yang amat baik untuk dilaksanakan tatkala anak yang baru wujud pada hari ketujuh.

Dalam hadits Samirah disebutkan kalau Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terikat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi seri, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik meriwayatkan bahwa Fatimah menimbang bobot rambut Rancak dan Husein lalu sira menyedekahkan argentum seberat rambut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau tidak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut kudu dilakukan beserta rata; gak boleh hanya mencukur sekitar kepala dan sebagian lainnya dibiarkan. Pasti lah semakin banyak rambut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- tambah besar lagi sedekahnya.

domba aqiqah bandung Rayuan Menyembelih Hewan Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Mempunyai: Dengan seri Allah, ya Allah terimalah (kurban) daripada Muhammad dan keluarga Muhammad serta daripada ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Orang islam, Abu Dawud)

Doa momongan baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Artinya: Aku berlindung untuk bani ini dengan kalimat Sang pencipta Yang Baik dari sekalian gangguan syaitan dan seloroh binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat jorok bagi apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Menurut Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di sebuah situs punya beberapa nasihat diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW di dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim AS tatkala Tuhan SWT menerima putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.

2. Di aqiqah berikut mengandung point perlindungan daripada syaitan yang dapat memegang anak yang terlahir ini, dan itu sesuai dengan makna hadits, yang memiliki arti: “Setiap keturunan itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Jadi Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Tuhan lebih selamat dari gelaran syaithan yang sering meranyau anak-anak. Hal inilah yang dimaksud sebab Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai oleh aqiqahnya”.

3. Aqiqah yaitu tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak di dalam hari rekapitulas. Sebagaimana Imam Ahmad menyebarkan: “Dia tergadai dari menurunkan Syafaat untuk kedua manusia tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan wujud taqarrub (pendekatan diri) menurut Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus sebagai wujud merasai syukur kepada karunia yang dianugerahkan Yang mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya si anak.

5. Aqiqah serupa sarana menampakkan rasa semarak dalam melaksanakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukmin yang mau memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah menasihati ukhuwah (persaudaraan) diantara bangsa.

Dan sedang banyak sedang hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah itu.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Abu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin serta diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Serbuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Manjapada al-Bustoni, secara judul “Aqiqah” terbitan Sirat Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Go Back

Comment

Blog Search

Comments

There are currently no blog comments.